contoh proposal tentang kemiskinan
KEMISKINAN PERKOTAAN
(Studi Kasus Faktor-Faktor
Kemiskinan Masyarakat Pantai Paradiso
Kelurahan Oesapa Barat Kec. Kelapa
Lima, Kota Kupang.
Nusa Tenggara Timur)
Sebagai Salah Satu Syarat dalam
Mendapatkan Nilai Semester Pada Mata Kulia Metode Penelitian Sosial
OLEH :
RAMADHAN
ABDURAHMAN
1103031031
JURUSAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU
POLITIK
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
latar Belakang
Salah satu permasalahan yang
dihadapi oleh pemerintah Indonesia adalah kemiskinan, kemiskinan dianggap
sebagai salah satu permasalahan sosial yang kompleks. Bahkan dalam setiap
pergantian pemimpin kemiskian senantisa menghiasi periode kepemimpinan
tersebut. Padahal setiap mereka yang memimpin Negara Indonesia selalu membawa
isu kemiskinan sebagai misi utama mereka disamping misi-misi yang lain.
Melihat
gejala kemiskinan ini, menimbulkan beberapa pertanyaan bahwa apakah kemiskinan sendiri merupakan sesuatu
hal yang sengaja ciptakan ataukah kemiskinan sejatinya merupakan suatu yang ada
dalam masyarakat selama masyarakat ada. atau dalam bahasa yang lain adalah
bahwa kemiskinan adalah sesuatu yang mesti ada dalam masyarakat, lebih jauh
bahwa kemiskinan menunjukan suatu perbedaan status dalam masyarakat sehingga
kemiskinan itu merupakan sesuatu hal yang harus diciptakan ataukah kemiskinan
diciptakan untuk kepentingan produksi seperti yang terjadi pada jaman “kapitalisme
yang membutuhkan orang miskin” sehingga orang miskin diupayakan untuk tetap
miskin demi kepentingan produksi dengan pekerjaan yang kotor.
Secara
umum kemiskinan itu timbul bisa dilihat dari perubahan pola pekerjaan dari
sektor agraris ke sektor industri yang
mengakibatkan adanya spesialisasi pekerjaan. Hal inilah menuntut keterampilan
hidup (life skill) dari pada setiap
orang dalam bersaing mendapatkan peluang kerja. faktor inilah yang
menunjukan bahwa kemiskinan diakibatkan dari tingkat pendidikan yang rendah
yang mempengaruhi keterampilan hidup (life skill) masyarakat sehingga tersisi
dari kesempatan sama pada pekerjaan yang layak.
Levitan
(1980 : 3 ) mendefenisikan kemiskinan sebagai kekurangan barang-barang dan
pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan untuk mencapai suatu standar yang layak.
Hal yang senada pula disampaikan oleh Salim (1980 : 4) mengatakan kemiskinan
merupakan sebuah kondisi kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup
yang pokok. Berdsarakan apa yang dikemukan oleh levitan dan Salim maka
masyarakat Indonesia sebagian besar dikategorikan sebagai masyarakat miskin.
Dengan
mendasarkan pada pernyataan yang dikemukan oleh levitan dan Salim tidak
bedahnya dengan kondisi rill yang ada di Nusa Tenggara Timur, sehingga bisa
dikatakan sebagai provinsi yang masyararakatnya tergolong masyarakat miskin.
Adapun beberapa tempat yang ada di NTT tepatnya dalam kota Kupang memiliki
kemiripan dengan pernyataan diatas. Daerah - daerah Seperti Oesapa Barat,
Oesapa Selatan, Oesapa Tengah dan ada beberapa daerah lainnya.
Daerah
– daerah di kota Kupang yang disebutkan diatas salah satu diantaranya yang cukup memprihatinkan adalah daerah
pantai Paradiso Oesapa Barat. Hal ini didasarkan pada kondisi rill yang jauh
dari standar dan syarat kelayakan hidup ditinjauh dari aspek kesehatan, pendidikan,
Ekonomi, ekologis dan sosio-kultural.
Pak
Martin (2014) dalam wawancara menuturkan bahwa pendapatan perkapita masyarakat
Oesapa Barat berada pesisir pantai Paradiso dibawa Rp. 750.000/bulan dengan
spesialisasi pekerjaan sebagai penjual kapur, pemulung, nelayan, buruh musiman.
Kemudian hampir sebagian bangunan rumah tempat tinggal masyarakat yang tinggal
di daerah pantai paradiso Oesapa Barat masih menggunakan dinding bebak dengan
atap alang.
Selain
itu, dari observasi yang dilakukan terlihat letak sumur, kandang ternak, dan
rumah tempat tinggal yang berhimpitan, tidak adanya selokan, dan tempat sampah
sehinggga menimbulkan genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya
jentik-jentik nyamuk yang berdampak pada sumber-sumber penyakit.
Berdasarkan
deskripsi tentang kondisi kemiskinan perkotaan tepatnya pada masyarakat Oesapa Barat seperti yang dikemukan diatas,
peneliti ingin meneliti tentang “Kemiskinan
Perkotaan (Studi kasus Faktor-faktor yang mempengaruhi Terjadinya Kemiskinan
Masyarakat Pantai Paradiso Oesapa Barat. Kec. Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa
Tenggara Timur)”.
1.2
Fokus Penelitian
Setelah
melakukan penjelajahan umum (Grant Tour Observation) selama dua minggu tentang
kehidupan masyarakat pantai paradiso Oesapa Barat sebagai tempat (place)
penelitian. Pada daerah ini terdapat orang-orang (actors), yang mengerjakan
(Activity), bertahan hidup dari kondisi kemiskinan yang terjadi.
1. Pekerjaan
masyarakat pantai Paradiso Oesapa Barat.
2. Fakor-Faktor
yang mempengaruhi kemiskinan Masyarakat pantai paradiso Oesapa Barat.
1.3
Rumusan Masalah
Berdasarkan
fokus penelitian yang ditetapkan tersebut, maka maslah penelitian dapat
dirumuskan sebagai berikut :
1. Apa
pekerjaan masyarakat miskin pantai Paradiso Oesapa Barat ?
2. Faktor
apa saja yang mempengaruhi kemiskinan masyarakat Pantai paradiso Oesapa Barat ?
1.4
Tujuan Penelitian
Tujuan utama dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya
kemiskinan masyarakat pantai Paradiso Oesapa Barat, kecamatan Kelapa Lima, Kota
Kupang, Nusa Tenggara Timur.
1.5
Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan dari pada
penelitian diatas adapun manfaat dari pada penelitian tentang faktor-faktor
yang mempengaruhi terjadinya Kemiskinan Perkotaan masyarakat Pantai paradiso
Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur dapat
diklasifikasi sebagai berikut :
1.5.1 Manfaat Teoritis
1. Semoga
hasil penelitian ini mernajdi referensi bagi penelitian selanjutnya yang
berkaitan dengan judul tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan
perkotaan.
2. Semoga
hasil dalam penelitian ini bisa dijadikan pengebangan ilmu pengetahuan.
1.5.2 Manfaat Praktis
1. Semoga
hasil penelitian ini dijadikan rekomendasi kepada pemerintahan setempat untuk
melakukan pembangunan di daerah pantai paradiso Oesapa Barat dalam menuntaskan
permasalahan kemiskinan tersebut.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Penjelasan Konsep
2.1.1
Pengertian kemiskian
Kemiskinan dalam
berbagai kepustakaan diartikan sebagai suatu standar hidup yang paling rendah.
Levitan (1980 : 3 ) mendefenisikan kemiskinan sebagai kekurangan barang-barang
dan pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan untuk mencapai suatu standar yang layak.
Hal yang senada pula disampaikan oleh Salim (1980 : 4) mengatakan kemiskinan
merupakan sebuah kondisi kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup
yang pokok.
Berdasarkan
defenisi kemiskinan yang dikemukan oleh Levitan dan Salim maka sebagian besar
masyarakat Indonesia dapat dikatakan sebagai masyarakat yang miskin, dengan
merujuk kepada unsur-unsur yang
dikemukan yaitu
kemiskinan adalah 1. Kurangnya barang-barang 2. Pelyanan-pelayan, dan 3.
Pendapatan rendah dalam memenuhi kebutuhan pokok hidup secara layak.
Suyanto (1990 :
5-7) mengatakan ada tujuh faktor penyebab kemiskinan antara lain :
Ø Pertama,
kemiskinan terjadi adalah disebabkan oleh faktor alam (naturally poor).
Ø Kedua,
kemiskinan terjadi dipengaruhi oleh sistem ekonomi yang dianut.
Ø Ketiga,
kemiskinan terjadi modal pembangunan.
Ø Keempat,
negara tidak memiliki orang yang terlatih, terddidk, atau tidak mempunyai
pengelaman teknis dan administratif.
Ø Kelima,
penyebab kemiskinan selalu dikaitkan dengan dengan kecenderungan suatu bangsa.
Ø Keenam. Negara
menjadi miskin dikarenakan oleh begara-negara industri.
Ø Ketujuh, kemiskinan disebabkan oleh latar belakang
sejarah masa lampuh.
Kemiskinan tidak mudah
didefenisikan secara objektif, namun
dapat dipahami dengan tolak ukur. Sayogyo (1978 : 3) mengatakan kemiskinan
diukur dengan hasil panen beras. Selain itu collin (1992) mengukur kemiskinan
dengan konsumsi giji yang dibutuhkan setiap hari.
2.1.2
Faktor-Faktor
Kemiskinan
Setiap permasalahan timbul pasti
karna ada faktor yang mengiringinya yang menyebabkan timbulnya sebuah
permasalahan, begitu juga dengan masalah kemiskinan yang dihadapi oleh negara Indonesia.
Beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya kemiskinan menurut Hartomo dan Aziz dalam Dadan Hudyana (2009:28-29) yaitu :
1). Pendidikan yang Terlampau Rendah
Tingkat pendidikan yang rendah
menyebabkan seseorang kurang mempunyai keterampilan tertentu yang diperlukan
dalam kehidupannya. Keterbatasan pendidikan atau keterampilan yang dimiliki
seseorang menyebabkan keterbatasan kemampuan seseorang untuk masuk dalam dunia
kerja.
2). Malas Bekerja
Adanya sikap malas (bersikap pasif
atau bersandar pada nasib) menyebabkan seseorang bersikap acuh tak acuh dan
tidak bergairah untuk bekerja.
3). Keterbatasan Sumber Alam
Suatu masyarakat akan dilanda kemiskinan
apabila sumber alamnya tidak lagi memberikan keuntungan bagi kehidupan mereka.
Hal ini sering dikatakan masyarakat itu miskin karena sumberdaya alamnya
miskin.
4). Terbatasnya Lapangan Kerja
Keterbatasan lapangan kerja akan
membawa konsekuensi kemiskinan bagi masyarakat. Secara ideal seseorang harus
mampu menciptakan lapangan kerja baru sedangkan secara faktual hal tersebut
sangat kecil kemungkinanya bagi masyarakat miskin karena keterbatasan modal dan
keterampilan.
5). Keterbatasan Modal
Seseorang miskin sebab mereka tidak
mempunyai modal untuk melengkapi alat maupun bahan dalam rangka menerapkan
keterampilan yang mereka miliki dengan suatu tujuan untuk memperoleh
penghasilan.
6). Beban Keluarga
Seseorang yang mempunyai anggota
keluarga banyak apabila tidak diimbangi dengan usaha peningakatan pendapatan
akan menimbulkan kemiskinan karena semakin banyak anggota keluarga akan semakin
meningkat tuntutan atau beban untuk hidup yang harus dipenuhi.
Suryadiningrat dalam Dadan Hudayana (2009:30), juga mengemukakan bahwa
kemiskinan pada hakikatnya disebabkan oleh kurangnya komitmen manusia terhadap
norma dan nilai-nilai kebenaran ajaran agama, kejujuran dan keadilan. Hal ini
mengakibatkan terjadinya penganiayaan manusia terhadap diri sendiri dan terhadap
orang lain. Penganiayaan manusia terhadap diri sendiri tercermin dari adanya :
2) kebodohan,
3) motivasi rendah,
4) tidak memiliki rencana jangka panjang,
5) budaya kemiskinan, dan
6) pemahaman keliru terhadap kemiskinan.
Kartasasmita dalam Rahmawati (2006:4) mengemukakan bahwa, kondisi kemiskinan dapat
disebabkan oleh sekurang-kurangnya empat penyebab, diantaranya yaitu :
1. Rendahnya Taraf Pendidikan
Taraf pendidikan yang rendah
mengakibatkan kemampuan pengembangan diri terbatas dan meyebabkan sempitnya
lapangan kerja yang dapat dimasuki. Taraf pendidikan yang rendah juga membatasi
kemampuan seseorang untuk mencari dan memanfaatkan peluang.
2. Rendahnya Derajat Kesehatan
Taraf kesehatan dan gizi yang rendah
menyebabkan rendahnya daya tahan fisik, daya pikir dan prakarsa.
3. Terbatasnya Lapangan Kerja
Selain kondisi kemiskinan dan
kesehatan yang rendah, kemiskinan juga diperberat oleh terbatasnya lapangan
pekerjaan. Selama ada lapangan kerja atau kegiatan usaha, selama itu pula ada
harapan untuk memutuskan lingkaran kemiskinan.
4. Kondisi Keterisolasian
Banyak penduduk miskin secara
ekonomi tidak berdaya karena terpencil dan terisolasi. Mereka hidup terpencil
sehingga sulit atau tidak dapat terjangkau oleh pelayanan pendidikan, kesehatan
dan gerak kemajuan yang dinikmati masyarakat lainnya.
Nasikun dalam Suryawati (2005:5) menyoroti beberapa sumber dan proses penyebab
terjadinya kemiskinan, yaitu :
1) Pelestarian Proses Kemiskinan Proses pemiskinan
yang dilestarikan, direproduksi melalui pelaksanaan suatu kebijakan diantaranya
adalah kebijakan anti kemiskinan, tetapi realitanya justru melestarikan.
2) Pola Produksi Kolonial
Negara ekskoloni mengalami
kemiskinan karena pola produksi kolonial, yaitu petani menjadi marjinal karena
tanah yang paling subur dikuasai petani skala besar dan berorientasi ekspor.
3) Manajemen Sumber Daya Alam dan
Lingkungan
Adanya unsur manajemen sumber daya
alam dan lingkungan, seperti manajemen pertanian yang asal tebang akan menurunkan
produktivitas.
4) Kemiskinan Terjadi Karena Siklus
Alam.
Misalnya tinggal di lahan kritis,
dimana lahan ini jika turun hujan akan terjadi banjir tetapi jika musim kemarau
akan kekurangan air, sehingga tidak memungkinkan produktivitas yang maksimal
dan terus-menerus.
5) Peminggiran Kaum Perempuan
Dalam hal ini perempuan masih
dianggap sebagai golongan kelas kedua, sehingga akses dan penghargaan hasil
kerja yang diberikan lebih rendah dari laki-laki.
6) Faktor Budaya dan Etnik
Bekerjanya faktor budaya dan etnik
yang memelihara kemiskinan seperti, pola hidup konsumtif pada petani dan
nelayan ketika panen raya, serta adat istiadat yang konsumtif saat upacara adat
atau keagamaan.
2.1.3
Jenis-jenis kemiskinan
Berbicara tentang
jenis-jenis kemiskinan, Sumodiningrat (1989) mengklasifikasikan kemiskinan
menjadi lima jenis, yaitu kemiskinan absolut, kemiskinan relatif, kemiskinan
kultural, kemiskinan kronis, dan kemiskinan sementara.
1. Kemiskinan absolut adalah apabila tingkat pendapatan seseorang
dibawah garis kemiskinan atau sejumlah pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi
kebutuhan hidup minimum (basic needs), antara lain kebutuhan pangan, sandang,
kesehatan, perumahan, dan pendidikan yang diperlukan untuk hidup dan bekerja.
2. Kemiskinan relatif adalah apabila seseorang yang mempunyai
pendapatan di atas garis kemiskinan, namun relatif lebih rendah dibandingkan
dengan masyarakat sekitarnya. Kemiskinan relatif ini erat kaitannya dengan
masalah pembangunan yang sifatnya struktural, yakni kesenjangan akibat
kebiijaksanaan pembangunan yang belum menjangkau seluruh masyarakat.
3. Kemiskinan kultural adalah kemiskinan yang diakibatkan oleh
acuan pada sikap seseorang atau masyarakat yang disebabkan oleh faktor budaya
tidak mau berusaha untuk memperbaiki tingkat kehidupannya meskipun ada usaha
dari pihak luar untuk membantunya.
4. Kemiskinan kronis adalah kemiskinan yang disebabkan oleh
beberapa hal, yaitu:
·
Kondisi sosial budaya yang
mendorong sikap dan kebiasaan hidup masyarakat yang tidak produktif.
·
Keterbatasan sumberdaya dan keterisolasian
(yaitu daerah-daerah kritis sumberdaya alam dan daerah terpencil)
·
Rendahnya taraf pendidikan
dan derajat perawatan kesehatan, terbatasnya lapangan kerja, dan ketidakberdayaan
masyarakat dalam mengikuti ekonomi pasar.
5. Kemiskinan sementara adalah kemiskinan yang terjadi akibat adanya
:
·
Perubahan siklus ekonomi
dari kondisi normal menjadi krisis ekonomi.
·
Perubahan yang bersifat
musiman seperti dijumpai pada kasus kemiskinan nelayan dan pertanian tanaman
pangan.
·
Bencana alam atau dampak
dari suatu kebijakan tertentu yang menyebabkan menurunnya tingkat kesejahteraan suatu
masyarakat.
BAB III
PROSEDUR PENELITIAN
2.1 Metode
Untuk menemukan ganbaran tentang upaya
bertahan hidup masyarakat miskin pantai paradiso Oesapa Barat dengan
unsur-unsur pokok yang harus ditemukan dengan butir-butir fokus penelitian,
rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. Maka digunakan
metode penelitian kualitatif.
Penelitian kualitatif pada hakikatnya
adalah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka,
berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya
(Nasution, 1988). Dalam penelitian ini yang
diamati adalah pekerjaan dari pada masyarakat miskin pantai paradiso Oesapa
Barat dan ingin mengetahui faktor yang mempengaruhi kemiskinan di daerah
tersebt.
2.2 Sumber Data dan Teknik pengumpulan
Data
Sumber data dan teknik pengumpulan
data dalam penelitian ini disesuaikan dengan fokus dan tujuan penelitian. Dalam
penelitian kualitatif, sampel sumber data dipilih dan mengutamakan perspektif
emik artinya mementingkan pandangan informan, yakni bagaimana mereka memandang
dan menafsirkan dunia dari pendiriannya. Peneliti tidak dapat memaksakan
kehendaknya untuk mendapat data yang diinginkan.
Sesuai dengan fokus penelitian, maka
yang dijadikan sampel sumber data dan teknik pengumpulan data adalah seperti
berikut :
1) Untuk
mendapatkan data tentang tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan
adalah masyarakat yang berdomisi di pantai paradiso. Teknik pengumpulan data
dalam penelitian ini adalah dengan studi dokumntasi, dan wawancara dengan
beberapa masyarakat yang dipercaya untuk memberikan informasi.
2) Untuk
mendapatkan data tentang profil pantai paradiso, maka sumber datanya adalah
pemerintah setempat.
3) Untuk
mendapatkan data tentang jumlah masyarakat miskinyang ada di pantai paradiso,
maka data yang akan diambil adalah dari data statistik pemerintahan setempat.
2.3 Instrumen Penelitian
Dalam penelitian
ini instrumen penelitian yang utama adalah peneliti sendiri. Namun setelah
fokus penelitian menjadi jelas maka dikembangkan penelitian secara sederhana,
yang dapat mempertajam serta melengkapi data hasil pengamatan dan observasi.
2.4 Teknik analisis Data
Teknik analisis
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif.,
mengikuti konsep yang diberikan Miles dan Huberman dan Spradley.
Miles dan Huberman (1984) dalam
sugiyono mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan
secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus pada setiap tahapan
penelitian sehingga sampai tuntas, dan data sampai jenuh. Aktivitas dalam
analisis data, yaitu data reduction, data display, dan konklusin.
Selanjutnya menurut Spradley, teknik
analisis data disesuaikan dengan tahapan dalam penelitian. Pada tahap
penjelajahan dengan teknik pengumpulan data Grant Tour Quetsion, analisis data
dilakukan dengan analisis domain, pada tahap menentukan fokus analisis data
dilakukan dengan analisis taksonomi, pada tahap selection, analisis data dilakukan
analisis kompensional. Selanjutnya untuk sampai menghasilkan judul dilakukan
analisis tema.
DAFTAR PUSTAKA
Didik, J.Rachbini, 1995. Negara
dan Kemiskinan Daerah. Jakarta:Pustaka Sinar Harapan.
Gunawan, Sumodiningrat, 1998. Membangun Perekonomian Rakyat.Yogyakarta : Pustakek Pelajar.
Susanto, Hari, 2006. Dinamika
Penanggulangan Kemiskinan Tinjauan Historis Era Orde Baru. Jakarta :
Khanata.
Kleden, Ninuk Probonegoro & Alie Humaedi. Segoro &
Negoro, 2010 Kemiskinan dari Perspektif
Kebudayaan. Jakarta:LIPI.
Sugiyono, 2013. Memahami Metode Penelitian kualitatif, Bandung, Alfabeta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar